This is Why Indonesia Should expand Halal Business

January 27, 2017 by : superadmin-iciefi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah– Sebagai salah satu negara jumlah  penduduk terbanyak di dunia,  Indonesia memiliki komposisi dengan populasi muslim terbesar di dunia. Namun  demikian, bisnis halal di Indonesia dinilai masih kurang populer. Oleh karenanya Indonesia diharapkan agar bisa mengembangkan bisnis halal guna menunjang sektor ekonomi negeri.

Demikian disampaikan Komite Nasional Ekonomi dan Industri Republik Indonesia, Hendri Saparini dalam 2nd ICIEFI (International Conference on Islamic Economics and Financial Inclusion), di Amphiteater Pascasarjana UMY, pada Selasa (24/1).

Dalam kesempatan tersebut, Hendri menyebutkan bahwa negara-negara lain seperti Jepang dan Italia sudah menerapkan bisnis Halal.

“Jepang saja sekarang sudah mengembangkan halal bussiness, pada sektor pariwisata dan industri makanan. Mereka bahkan bekerja sama dengan Malaysia untuk mendapatkan label halal untuk makanan produksi mereka. Seharusnya kita sebagai akademisi juga harus sadar dan mulai mengembangkan halal bisnis. Terutama pada sektor makanan,” jelas Hendri seperti dilansir dalam laman umy.ac.id

Hendri menilai bahwa kedepannya bisnis halal akan semakin berkembang di kawasan global. Ia mengungkapkan bahwa selain Jepang, Italia juga sudah menjalankan bisnis halal di bidang fashion bahkan mengklaim sebagai negara penyedia fashion muslim. Menurutnya, bila Indonesia belum sadar dalam pengembangan bisnis halal maka potensi Indonesia untuk menjadi produsen bisnis halal akan kalah dengan negara lain. “Indonesia hanya akan terus menjadi konsumen, padahal komunitas Muslim di Indonesia sangatlah besar,” tambahnya.

Dari segi pemerintahann, kata Hendri, nilai yang terkandung di dalam Undang-Undang dasar 1945 sudah selaras dengan Islamic Values yang pernah diterapkan oleh khalifah Islam di masa lalu. Namun sayangnya nilai-nilai tersebut saat ini sudah banyak dilupakan.

“Seperti baik dalam Islam dan dalam UUD 1945 disebutkan bahwa 80 persen minyak dan gas harus dikuasai oleh negara. Namun kenyataannya, saat ini justru sektor prifat yang menguasai minyak dan gas yang ada di Indonesia, sehingga ekonomi Indonesia masih stagnan,” tandasnya (dns/ Yusri).

 

Source: Suara Muhammadiyah